Sumbawa-Besar,Suarasamawa.com– Sebagian besar wilayah di Indonesia kini berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Lonjakan tajam kasus penyakit yang disebabkan virus Morbillivirus ini terjadi sepanjang 2025 dan masih berlangsung hingga awal 2026. Meski Kabupaten Sumbawa sejauh ini mencatatkan angka nihil, Pemerintah Daerah melalui Dinas Kesehatan setempat mengimbau seluruh masyarakat agar tidak lengah dan segera meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa, Sarip Hidayat, menyatakan bahwa beberapa daerah di Pulau Sumbawa sudah melaporkan adanya warga positif campak. Kondisi ini menjadi alarm bahaya karena penyakit tersebut memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.
“Satu penderita dapat menularkan campak kepada 12 hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan tubuh. Bahkan, virusnya mampu bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan. Ini bukti betapa mudah dan cepatnya penyebaran jika tidak dicegah,” tegas Sarip, Senin (13/04/2026).
Sarip menjelaskan bahwa gejala awal campak kerap kali mirip flu biasa, sehingga sering diabaikan. Gejala tersebut meliputi demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah. Setelah beberapa hari, muncul ruam kemerahan pada kulit yang biasanya dimulai dari wajah lalu menyebar ke seluruh tubuh.
“Orang tua harus jeli. Jika anak menunjukkan gejala seperti itu, jangan tunggu parah. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapat penanganan,” imbuhnya.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa campak bukanlah penyakit ringan. Tanpa penanganan cepat, penyakit ini dapat memicu komplikasi berbahaya seperti pneumonia, diare berat, infeksi telinga, hingga radang otak (ensefalitis) yang bisa berakibat fatal.
Menurut Sarip, salah satu pemicu utama melonjaknya kasus campak di berbagai daerah adalah menurunnya cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir. Vaksin campak atau MR (Measles-Rubella) yang seharusnya diberikan pada anak usia 9 bulan (dosis pertama) dan usia 18 bulan (dosis kedua) tidak lagi menjangkau seluruh target.
“Banyak anak yang tidak mendapatkan vaksinasi lengkap sehingga kekebalan tubuh mereka terhadap campak sangat rendah. Ini celah besar bagi virus untuk masuk dan menyebar,” jelasnya.
Untuk mencegah munculnya kasus di Kabupaten Sumbawa, Dinas Kesehatan tidak hanya mengandalkan program vaksinasi. Masyarakat diminta berperan aktif dengan menjaga kesehatan keluarga, memberikan asupan gizi seimbang, memastikan anak mendapatkan vitamin A sesuai jadwal, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Sarip juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melapor ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila menemukan warga yang menunjukkan gejala menyerupai campak. Semakin cepat dilaporkan, semakin cepat pula upaya penanganan dan isolasi dilakukan sehingga rantai penularan bisa diputus.
“Jangan tunggu sampai ada yang positif di Sumbawa. Kewaspadaan kolektif adalah kunci. Mari lindungi anak-anak kita dari campak,” pungkasnya.(San)


Komentar