Sumbawa-Besar, Suarasamawa.com— Gerakan pemulihan lingkungan nasional terus digaungkan. Bupati Sumbawa Ir. H. Syarafuddin Jarot, M.P., mendampingi Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Mohammad Jumhur Hidayat dalam kegiatan penanaman mangrove bertajuk “Mangrove For Life” di Desa Labuhan Alas, Kecamatan Alas, Selasa (07/07/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari gerakan nasional Tobat Ekologis dengan target penanaman 2 miliar pohon ini turut dihadiri oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhammad Iqbal dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas. Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu mewujudkan keadilan iklim menuju Indonesia yang lebih asri.
Sumbawa Hijau Lestari, Bukti Nyata Komitmen Lokal
Bupati Syarafuddin Jarot menegaskan bahwa Kabupaten Sumbawa telah lebih dahulu mengimplementasikan semangat tobat ekologis melalui program Sumbawa Hijau Lestari.
“Saya kira apa yang disampaikan Pak Menteri tadi adalah tobat ekologi nasional, kita sudah mendukung program itu dengan membuat Sumbawa Hijau Lestari. Luar biasa,” ujar Bupati.
Kepala daerah yang akrab disapa Haji Jarot ini memaparkan pencapaian luar biasa Sumbawa dalam penghijauan. “Tahun ini kita sudah menanam satu juta pohon di Sumbawa saja. Dilakukan melalui safari sebanyak tiga belas kali dari gunung ke gunung. Semua anak sekolah, pegawai negeri, bahkan yang menikah wajib menanam pohon,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, Pemkab Sumbawa telah menandatangani MoU dengan Gubernur NTB untuk pengelolaan hutan. “Kita satu-satunya yang sudah melakukan itu, karena kewenangan hutan ada di provinsi, maka Sumbawa membuat MoU untuk mengelola hutan tersebut. Insyaallah tahun 2027 akan kita tanam lebih banyak lagi,” tambahnya optimistis.
Mangrove, Penyerap Karbon Hingga Lima Kali Lipat
Menteri Lingkungan Hidup Mohammad Jumhur Hidayat menjelaskan signifikansi penanaman mangrove dalam mengatasi krisis iklim. “Daya serap emisi karbon dari mangrove ini bisa sekitar empat sampai lima kali dari pohon biasa. Jadi memang sangat diperlukan kita untuk bekerja sungguh-sungguh memastikan mangrove ini terjaga,” tegasnya.
Menteri LH juga memaparkan bahwa PT Freeport Indonesia telah menanam mangrove seluas 445 hektare di lokasi ini dari total hampir 500 hektare, dengan sisanya ditanam di Lombok.
“Mangrove bukan hanya sekadar pohon, tapi banyak sekali kegiatan ekonomi yang bisa terjadi jika ekosistem ini subur, mulai dari tempat ikan, kerang, menjadi ekowisata, hingga bisa menjadi sirup dan hasil ekonomi lainnya,” papar Jumhur.
“Alhamdulillah Pak Gubernur di sini sangat proaktif, dan gerakan ini akan terus berlangsung. Mudah-mudahan gerakan pemulihan lingkungan secara nasional yang disebut tobat ekologis ini akan lebih dikobarkan lagi,” tambahnya.
Freeport Komitmen 12 Ribu Hektare di Seluruh Indonesia
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengungkapkan bahwa NTB menjadi salah satu wilayah prioritas dalam program penanaman mangrove perusahaannya.
“Ini salah satu daerah yang memiliki ekosistem, struktur tanah, dan air laut yang sangat mendukung. Di samping NTB, kita juga ada di enam provinsi lain, tapi yang paling besar adalah di NTB,” jelas Tony.
Ia memaparkan target ambisius perusahaan: “Target kita 2.000 hektare untuk di luar Papua dan 10.000 hektare di Papua. Mudah-mudahan bisa dicapai dalam waktu tidak terlalu lama.”
Gubernur NTB Dorong Perusahaan Lain Turut Serta
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memberikan apresiasi tinggi kepada PT Freeport Indonesia sekaligus mendorong perusahaan-perusahaan lain untuk mengikuti jejak serupa.
“Bukan hanya Freeport, tapi kami juga mendorong perusahaan-perusahaan lain yang menghasilkan emisi di NTB untuk melakukan penanaman mangrove, karena NTB punya potensi banyak sekali pantai yang sangat cocok untuk penanaman mangrove,” ujar Iqbal.
Orang nomor satu di NTB ini juga mengungkapkan rencana strategis pemprov. “Ini kontribusi NTB kepada Indonesia dengan menyerap sebanyak mungkin karbon yang ada. Insyaallah pemerintah provinsi akan menyiapkan BUMD khusus yang menangani karbon trading,” ungkapnya.
“Kita juga perlu melakukan pembenihan spesies-spesies langka. Saya yakin Pak Bupati sudah melakukan pendataan, nanti akan kita bahas bersama teman-teman di Sumbawa. Banyak spesies mangrove yang unik dan berbeda-beda di NTB,” pungkasnya.
Kegiatan “Mangrove For Life” di Desa Labuhan Alas ini menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan sektor swasta dalam mendukung gerakan Tobat Ekologis Nasional menuju target 2 miliar pohon demi keadilan iklim dan Indonesia yang lebih asri.(san)


Komentar