Sumbawa-Besar, Suarasamawa.com– Angka stunting di Kabupaten Sumbawa masih tergolong tinggi. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di daerah ini mencapai 29,8 persen. Pemerintah kabupaten pun memasang target ambisius: menurunkan angka tersebut menjadi 21,7 persen.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bapperida Kabupaten Sumbawa, Dr. Rusmayadi, menegaskan bahwa target tersebut hanya bisa dicapai melalui kolaborasi lintas sektor.
“Berbagai upaya pencegahan dan penurunan stunting kami lakukan, dan lebih dimaksimalkan melalui intervensi kebijakan. Target 21,7 persen bisa tercapai dengan kolaborasi semua pihak,” ujarnya kepada media.
Rusmayadi menjelaskan, anak stunting tidak hanya bertubuh pendek, tetapi juga mengalami gangguan pertumbuhan otak. Dampaknya, kemampuan kognitif, daya belajar, dan konsentrasi anak menurun.
“Prestasi akademiknya lebih rendah. Saat dewasa, produktivitas kerjanya juga berpotensi lebih rendah,” terangnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa jika prevalensi stunting tetap tinggi, Kabupaten Sumbawa akan kesulitan mencetak generasi unggul dan inovatif. Padahal, daerah ini sangat membutuhkan sumber daya manusia berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.
Tak hanya itu, anak yang stunting memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kronis saat dewasa, seperti diabetes dan hipertensi. “Kondisi ini jelas meningkatkan beban biaya kesehatan, baik bagi keluarga maupun daerah,” tambahnya.
Rusmayadi juga menyoroti hubungan stunting dengan kemiskinan antargenerasi. Keluarga miskin lebih rentan memiliki anak stunting, dan anak stunting cenderung menghadapi masa depan ekonomi yang lebih sulit.
Salah satu program unggulan yang telah dijalankan untuk memutus mata rantai tersebut adalah program quick wins. Program ini merupakan langkah strategis percepatan penurunan stunting melalui implementasi aksi konvergensi di daerah.
“Quick wins berfokus pada pemberdayaan masyarakat desa agar mampu meningkatkan kualitas hidup secara mandiri, terutama dalam bidang kesehatan, gizi, dan kesejahteraan keluarga,” pungkas Rusmayadi.
Ia menutup dengan menekankan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, organisasi masyarakat, hingga peran aktif warga Sumbawa sendiri.(San)


Komentar