Sumbawa-Besar, Suarasamawa.com–Penanganan bencana di pulau-pulau kecil tidak bisa disamakan dengan wilayah daratan utama. Dibutuhkan strategi khusus mengingat karakteristik geografis dan akses layanan darurat yang terbatas.
Penegasan itu disampaikan Bupati Sumbawa, Ir. H. Syarafuddin Jarot, MP, saat menghadiri Diseminasi Dokumen Laporan Kajian Ketangguhan Pulau Kecil di La Grande Hall Sumbawa Grand Hotel, Kamis (21/05/2026).
“Kalau di kota, pemadam kebakaran 15 menit sudah sampai. Tapi kalau di pulau, jangkauannya panjang. Maka perlu strategi dan kajian khusus menghadapi hal-hal yang sifatnya lebih spesifik di daerah kepulauan,” ujar Bupati.
Keselamatan Turis Jadi Prioritas
Menurut Bupati Jarot, kajian yang merupakan hasil bantuan dari Australia ini sangat relevan dengan pengembangan pariwisata di Kabupaten Sumbawa.
“Turis, apalagi mancanegara, sangat konsen dengan keselamatan. Baik keselamatan sosial, keselamatan masyarakat, maupun keselamatan dari bencana tak terduga. Kalau kita ingin mengembangkan pariwisata, keamanan harus kita siapkan dulu, secara sosial maupun alami,” tegasnya.
Bupati menyoroti kebiasaan masyarakat saat terjadi bencana yang kerap salah prioritas.
“Kalau orang kita, ketika ada kecelakaan yang ditanya dulu: bagaimana mobil saya, motor saya, rumah saya. Padahal yang utama itu jiwa manusia. Mobil belakangan. Ini yang harus kita ubah,” katanya.
Jalur Evakuasi Wajib Tersedia
Bupati menekankan bahwa setiap titik wisata, pelabuhan, hingga desa harus memiliki jalur evakuasi yang jelas.
“Kalau terjadi tsunami, ke mana harus lari. Harus ada titik kumpul di tempat ketinggian. Di luar negeri, semua gedung ada assembly point. Kita juga harus punya,” jelasnya.
Ia memberi contoh konkret di Pulau Moyo. “Warga harus tahu jika gempa harus naik ke daerah ketinggian. Jangan sampai ada gempa malah lari ke bawah pohon kelapa. Bisa ketimpa buahnya. Harus jelas strateginya.”
Instruksi ke Camat dan Kades
Bupati meminta agar dokumen kajian tidak hanya disimpan di kantor desa, melainkan disosialisasikan secara masif.
“Harus disosialisasikan ke pemuda, ke masyarakat. Biar tersimpan di memori kepala setiap warga. Jadi kalau terjadi apa-apa, spontan tahu harus apa,” tambahnya.
Ia menginstruksikan camat dan kepala desa menjadikan hasil kajian sebagai rujukan penyusunan program desa.
“Bukan hanya bangun fisik, tapi bangun pemahaman keselamatan jiwa. Baik warga yang tinggal maupun wisatawan yang berkunjung,” ucapnya.
Kebijakan Tak Bisa Disamaratakan
Bupati Jarot mengingatkan agar kebijakan bencana tidak disamaratakan karena setiap pulau punya karakteristik sendiri.
“Jangan sampai semakin banyak aturan, semakin banyak pidana. Aturan harus spesifik sesuai desa masing-masing, pulau masing-masing,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa ketangguhan pulau bukan hanya urusan BPBD. Semua dinas harus terlibat.
“Dinas PUPR siapkan infrastruktur dan pelabuhan. Dinas Kesehatan siapkan fasilitas dan tenaga medis. Dinas Pendidikan siapkan sarana dan guru yang kompeten. Dinas Kelautan bantu nelayan. Dinas Sosial salurkan bantuan,” rincinya.
Bupati juga mengajak dunia usaha berkontribusi melalui program CSR.
“CSR jangan hanya ke tempat yang mudah. Di pulau-pulau kecil kadang terlewat. Padahal mereka juga butuh,” ujarnya.
Apresiasi untuk Kepala Desa
Syarafuddin memberi apresiasi kepada kepala desa yang terlibat dalam proses kajian.
“Desa adalah garda terdepan. Kepala desa dan aparatnya yang langsung berhadapan dengan kondisi masyarakat.”
Ia meminta pemerintah desa memperkuat perhatian terhadap risiko bencana dalam perencanaan pembangunan. “Masukkan anggarannya. Buat pelatihan, bentuk relawan, sediakan sarana prasarana. Konsultasi dengan BPBD,” tutupnya.
Kajian 8 Bulan untuk Pulau Kecil
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Sumbawa, Muhammad Nurhidayat, S.T., menyampaikan bahwa dokumen kajian ketangguhan pulau-pulau kecil telah selesai disusun setelah melalui proses selama lebih dari 8 bulan.
“Alhamdulillah untuk desa siaga di Pulau Sumbawa sudah berjalan. Untuk pulau-pulau kecil ditangani provinsi dan sekarang sudah selesai. Hari ini kita lakukan diseminasi agar hasilnya bisa dimasukkan dalam kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumbawa,” ujarnya.
Nurhidayat menjelaskan, tujuan kajian ini agar masyarakat di pulau kecil mengetahui potensi yang ada di desanya sekaligus memahami potensi bencana yang bisa timbul.
“Harapan kami masyarakat tidak kaget dengan bencana yang akan datang. Karena jarak dari wilayah induk jauh, perlu penguatan kapasitas warga. Apa yang bisa mereka lakukan saat bencana, sambil menunggu kami datang membawa bantuan,” jelasnya.
Ia meminta agar hasil kajian ini tidak berhenti sebagai dokumen, tapi diintegrasikan ke dalam perencanaan desa dan kebijakan daerah.
Di akhir acara, Bupati Sumbawa meresmikan diseminasi dokumen laporan kajian ketangguhan pulau-pulau kecil di Kabupaten Sumbawa.(san)


Komentar